SKRINING FITOKIMIA
Daun Dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)
I. TUJUAN
Mahasiswa mampu
mengidentifikasi kandungan kimia tanaman daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)
secara kuantitatif
dan kualitatif.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Simplisia adalah
bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia
dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan
(mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat tumbuhan (Syahid, 2004).
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau
pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat
dijamin selalu konstan karena disadari adanya variabel bibit, tempat tumbuh,
iklim, kondisi umum dan cara panen, serta proses pascapanen dan preparasi
akhir. Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak
berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. Variabel tersebut juga dapat
dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur
analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak
berdampak banyak pada khasiat produksi. Usaha untuk menjaga variabel tersebut
dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia (Anonim, 2000).
Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan
produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk
menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut :
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya
mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran
jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis),
serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi).
2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi
manusia sebagai obat tetapi diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk
kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat).
3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan
kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis untuk mempunyai
spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa
kandungan (Anonim, 2000).
Daun dewa mengandung
cukup banyak serat, berguna sebagai pencegah dan pengobatan suatu penyakit
(Winarto, 2004). Daun dewa merupakan tanaman yang mudah diperoleh, dapat tumbuh
di segala musim, dan mempunyai banyak khasiat. Tanaman daun dewa digolongkan
sebagai herba, daun berhadapan kadang ada yang tersebar, daun tunggal tanpa
daun penumpu. Bunga dalam bongkol kecil, bunga berwarna orange kecoklatan.
Mahkota bunga berdaun lepas berbentuk lidah. Bakal buah tenggelam dengan satu
bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu, kebanyakan dengan dua kepala putik.
Biji tumbuh menyatu dengan kulit buah (Van Steenis, 2003). Tanaman ini berkhasiat
sebagai antiradang, lever, analgetik, pembersih darah, antikoagulan, penghilang
nyeri di persendian akibat rematik, pengobatan luka terpukul, tidak datang
haid, bengkak payudara, kejang pada anak, masuk angin, digigit binatang
berbisa, asam urat, kutil, tumor, kanker, mencegah serangan jantung, stroke dan
jerawat (Dewani dan Sitanggang, 2006).
Unsur – unsur kimia
yang dimiliki tanaman daun Dewa :
Menurut penilitian pada Pusat
Kesehatan (Farmakologis), setiap unsur kimia yang dimiliki dari tiap bagian
tanaman daun dewa ini, memiliki manfaat yaitu:
1. Efek dari daun
dewa adalah daun dan umbinya biasa digunakan sebagai obat antikoagulan, anti
pembengkakan luka akibat pukulan/benturan/memar, melancarkan peredaran darah,
menghentikan pendarahan pada batuk darah, mimisan, muntah darah, mengurangi
pembengkakan atau benjolan pada payudara, mengatasi haid tidak lancar.
2. Minyak Atsiri
yang terkandung dalam daun dewa mampu merangsang peredaran darah menjadi
lancar.
3. Ekstrak Etanol
daun dewa mampu menghambat pertumbuhan tumor paru dan sel kanker pada uji coba
mencit (tikus putih) (Winarto, 2004).
![]() |
Gambar daun
dewa (Gynura
segetum (L.) Merr.)
Nama lain daun
dewa adalah Gynura divaricata DC,
Gynura ovalis DC, Senecio divaringata
L. Di Cina dikenal sebagai Samsit atau
tansit (Coan tin sit) (Winarto, 1994).
Klasifikasi
daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) :
Divisi :
Spermatophyta
Sub Divisi :
Angiospermae
Kelas :
Dicotyledonae
Sub Kelas :
Sympetalae
Bangsa :
Asterales/Campanulatae
Suku :
Asteraceae/Compositae
Marga :
Gynura
Jenis :
Gynura pseudochina (L) DC
(Tjitrosoepomo, 1988 ; Backer and Van den Brink, 1968).
Kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) adalah
saponin, flavonoid, dan minyak atsiri (Kumalaningsih, 2008). Flavonoid dalam
daun dewa adalah glikosida quersetin (Soetarno, 2000), yang bersifat
antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga pembentukan
asam urat terhambat (Sulaksana, 2004).
Beberapa kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) yaitu:
1.
Saponin
Saponin
mempunyai berat molekul yang besar dan polaritas tinggi. Saponin berbentuk
glikosida yang dapat dihidrolisis menjadi asam yang mengandung aglikon
(sapogenin), beberapa gula dan berkaitan dengan asam uroniat. Menurut
aglikonnya, saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu steroid (tetrasiklik
triterpenoid) dan pentasiklik triterpenoid. Kedua macam senyawa tersebut
mempunyai hubungan dengan glikosida pada atom C3 (Trease and Evans, 2002).
Saponin sering digunakan sebagai detergen, bersifat hemolitik yang jika masuk ke
peredaran darah menyebabkan ketoksikan, bersifat diuretik dan kardiotonik
(Trease and Evans, 2002).
2.
Flavonoid
Flavonoid
merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua
tumbuhan hijau. Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula
terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung 15 atom
karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua
cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak
dapat membentuk cincin ketiga (Markham, 1988). Flavonoid terutama berupa
senyawa yang larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol 70%. Flavonoid
berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau
amonia, mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987).
3.
Minyak
atsiri
Minyak atsiri
adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak atsiri ini disebut juga
minyak menguap, minyak eteris, atau minyak asensial karena pada suhu biasa
(suhu kamar) mudah menguap di udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena
minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Minyak atsiri pada daun dewa diduga dapat merangsang sirkulasi darah, juga
bersifat analgetik dan antiinflamasi (Winarto, 1994).
Untuk
mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk simplisia, maka
dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis
kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian makroskopik,
pengujian mikroskopik, dan pengujian histokimia. Dasar pembuatan simplisia
yaitu :
a.
Simplisia dibuat dengan cara
pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringan
dilakukan dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan
dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang.
Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan
perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut,
bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga
diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan.
b.
Simplisia dibuat dengan proses
fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan saksama agar proses
tersebut tidak berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
c.
Simplisia dibuat dengan proses
khusus
Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan,
pengentalan eksudat nabati, pengeringan sari air dan proses khusus lainnya
dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan harus
memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.
d.
Simplisia pada proses pembuatan
memerlukan air
Pati, talk, dan sebagainya pada proses pembuatannya
memerlukan air. Air yang digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga,
kuman patogen, logam berat, dan lain–lain (Anonim, 1985).
Tahap Pembuatan
a.
Bahan baku
Bahan baku merupakan sampel yang digunakan dalam
identifikasi suatu senyawa. Bahan baku/sampel biasanya berupa daun yang
dijadikan serbuk, atau dapat berupa ekstrak kental yang selanjutnya dilakukan
identifikasi terhadap senyawa yang dikandungnya.
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan
kotoran–kotoran atau bahan–bahan asing lainya dari bahan simplisia. Misalnya
pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan–bahan seperti
tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotor
lainya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan
pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan
air bersih, misalnya air dari mata air, air dari sumur atau air PAM.
d.
Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses
perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan
langsung dirajang tetapi dijemur dengan keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan
dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga
diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
e. Pengeringan
Tujuan
pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
f. Sortasi
kering
Sortasi
setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda–benda asing seperti bagian tanaman yang
tidak diinginkandan pengotor–pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada
simplisia kering.
g.
Pengepakan dan penyimpanan
Pada
penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mengakibatkan
kerusakan simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan,
persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara
pengawetannya. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utama adalah air dan
kelembaban. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan
tujuan penggunaan pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai, dapat
melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi
pemanfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan maupun penyimpanannya.
h.
Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan
mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul
atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni
dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam
Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika
Indonesia Edisi terakhir (Anonim, 1985).
III. CARA
KERJA
1. Pembuatan
Serbuk Daun Dewa
-
Ambil
daun purwoceng sebanyak 1 ons.
-
Sortasi
daun purwoceng yang telah diambil.
-
Cuci
daun purwoceng dengan air bersih.
-
Potong
kecil-kecil daun purwoceng (proses perajangan).
-
Oven
daun purwoceng yang telah dipotong dengan suhu 1200C.
-
Haluskan/hancurkan
daun yang telah kering dengan mesin penggiling.
-
Simpan
serbuk dalam plastik pengemas.
2. Uji
Saponin
0,5 g serbuk daun dewa ditambahkan
(10 ml) ke dalam tabung reaksi, tutup dan kocok kuat-kuat selama 30 detik.
Biarkan tabung dalam posisi tegak selama 30 menit, apabila buih tingginya
beberapa cm dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin.
3. Uji
Flavonoid
a.
Pembuatan
larutan percobaan
- 0,5
g serbuk daun dewa
disari dengan 10 ml metanol.
- Panaskan serbuk yang telah ditambah metanol diatas waterbath selama 10 menit.
- Saring
selagi panas dengan kertas saring.
- Encerkan filtrat dengan 10 ml air dan pindahkan ke dalam corong pisah.
- Tambahkan 5 ml
petroleum eter.
- Fase
metanol diuapkan sampai kering.
- Tambahkan dengan 5 ml etil asetat.
- Ambil
bagian yang jernih.
b.
Reaksi
Taubeck
-
Ambil 1 ml
larutan dalam cawan.
-
Uapkan di atas waterbath hingga kering. Kemudian
basahi dengan aseton.
-
Tambahkan eter.
-
Tambah serbuk asam borat dengan asam
oksalat.
-
Panaskan di atas waterbath selama 10 menit.
-
Angkat
cawan dari waterbath dan dinginkan.
-
Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-
Terjadi
fluoresensi (menunjukkan adanya flavonoid).
c.
Reaksi
Wilson
- Ambil
1ml larutan dalam cawan.
- Uapkan
di atas waterbath
hingga kering.
- Kemudian
basahi dengan aseton.
- Tambah
serbuk asam borat dengan asam oksalat.
- Tambahkan serbuk borat dan asam sitrat.
- Panaskan
di atas waterbath selama
10 menit. Tambahkan aseton.
-
Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-
Menunujukkan
(+) berwarna kuning tetapi tidak berfluoresensi.
d.
Reaksi
yang lain untuk Flavonoid
- Ambil
1ml larutan dalam cawan.
- Uapkan
di atas waterbath hingga kering.
- Larutkan
dalam 2ml etanol 95%.
- Masukkan kedalam tabung reaksi (Tabung reaksi A, B,
dan C).
- Larutan pada tabung reaksi A, tambahkan dengan FeCl3
2% dalam air.
- Larutan pada tabung reaksi B, tambahkan dengan Pb
Asetat 25% dalam air.
- larutan pada tabung reaksi C, tambahkan dengan Amonia
NaOH 0,2 N.
4. Uji
Minyak Atsiri
a. Identifikasi
Umum
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri dalam cawan porselin yang berisi air.
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri pada sepotong kertas saring.
-
Kocok
1 ml minyak atsiri dengan 1 ml natrium klorida jenuh dalam gelas 5 ml, dan
biarkan memisah.
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri dalam etanol, petroleum eter dan kloroform.
-
Deteksi
adanya senyawa fenol dalam minyak atsiri :
Ke dalam 2 ml larutan minyak
atsiri (25% dalam etanol 95% yang netral terhadap lakmus) tambahkan setetes
larutan ferri klorida.
-
Reduksi
volume minyak atsiri yang mengandung fenol dan turunannya :
Ke dalam 2 ml minyak atsiri
ditambah larutan natrium hidroksida, kocok pelan-pelan dan amati (garam fenolat
larut dalam air sehingga volume berkurang).
b. Identifikasi
komponen khusus dalam minyak atsiri
1.
Uji
terhadap eugenol untuk Oleum Caryophylli:
-
Ambil
obyek glass dan deck glass, bersihkan obyek glass dan deck glass.
-
Teteskan
minyak atsiri sebanyak 1 tetes pada masing-masing obyek glass.
-
Pada
salah satu obyek glass ditambahkan larutan natrium hidroksida 3%, jenuhi dengan
larutan kalium bromida.
-
Amati
kristal natrium eugenolat yang terjadi dibawah mikroskop.
-
Pada
salah satu obyek glass yang lain ditambah larutan ferri klorida. Amati warna
yang terjadi.
2.
Uji
piperis nigri fructus:
Teteskan asam sulfat pekat
pada serbuk Piperis Nigri Fructus pada obyek glass yang diletakkan diatas
kertas putih. Amati warna yang terjadi.
c. Uji
adanya fellandren
-
Kocok
100 mg serbuk Piperis Nigri Fructus dalam 5 ml petroleum eter, kemudian saring.
-
Filtrat
kemudian dicampur dengan 5 ml larutan natrium nitrit (dibuat dari 5 gram
natrium nitrit dalam 8 ml air), kemudian tambah 5 ml asam asetat glasial.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.1985.Cara
Pembuatan Simplisia. 2–22.
Jakarta: Depkes RI.
Anonim.2000.Parameter
Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. 3–5. Jakarta: Depkes RI.
Fitria, Aninda Titis. 2011. Efek Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (L) DC) Terhadap
Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur Balb-C Hiperurisemia.
Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Harborne.
J.B.,1987.Metode Fitokimia, terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso, 69-94,
142-158, 234-238. Bandung: ITB Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar