Sabtu, 19 Mei 2012

makalah skrining fitokimia


SKRINING FITOKIMIA
Daun Dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)

I.     TUJUAN
Mahasiswa mampu mengidentifikasi kandungan kimia tanaman daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) secara kuantitatif dan kualitatif.

II.  TINJAUAN PUSTAKA
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan (Syahid, 2004).
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu konstan karena disadari adanya variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi umum dan cara panen, serta proses pascapanen dan preparasi akhir. Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. Variabel tersebut juga dapat dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak berdampak banyak pada khasiat produksi. Usaha untuk menjaga variabel tersebut dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia (Anonim, 2000).
Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut :
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi).
2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetapi diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat).
3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim, 2000).
Daun dewa mengandung cukup banyak serat, berguna sebagai pencegah dan pengobatan suatu penyakit (Winarto, 2004). Daun dewa merupakan tanaman yang mudah diperoleh, dapat tumbuh di segala musim, dan mempunyai banyak khasiat. Tanaman daun dewa digolongkan sebagai herba, daun berhadapan kadang ada yang tersebar, daun tunggal tanpa daun penumpu. Bunga dalam bongkol kecil, bunga berwarna orange kecoklatan. Mahkota bunga berdaun lepas berbentuk lidah. Bakal buah tenggelam dengan satu bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu, kebanyakan dengan dua kepala putik. Biji tumbuh menyatu dengan kulit buah (Van Steenis, 2003). Tanaman ini berkhasiat sebagai antiradang, lever, analgetik, pembersih darah, antikoagulan, penghilang nyeri di persendian akibat rematik, pengobatan luka terpukul, tidak datang haid, bengkak payudara, kejang pada anak, masuk angin, digigit binatang berbisa, asam urat, kutil, tumor, kanker, mencegah serangan jantung, stroke dan jerawat (Dewani dan Sitanggang, 2006).
Unsur – unsur kimia yang dimiliki tanaman daun Dewa :
Menurut penilitian pada Pusat Kesehatan (Farmakologis), setiap unsur kimia yang dimiliki dari tiap bagian tanaman daun dewa ini, memiliki manfaat yaitu:
1. Efek dari daun dewa adalah daun dan umbinya biasa digunakan sebagai obat antikoagulan, anti pembengkakan luka akibat pukulan/benturan/memar, melancarkan peredaran darah, menghentikan pendarahan pada batuk darah, mimisan, muntah darah, mengurangi pembengkakan atau benjolan pada payudara, mengatasi haid tidak lancar.
2. Minyak Atsiri yang terkandung dalam daun dewa mampu merangsang peredaran darah menjadi lancar.
3. Ekstrak Etanol daun dewa mampu menghambat pertumbuhan tumor paru dan sel kanker pada uji coba mencit (tikus putih) (Winarto, 2004).




Daun Dewa 33 Kandungan Kimia Daun Dewa
 







     Gambar daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)
Nama lain daun dewa adalah Gynura divaricata DC, Gynura ovalis DC, Senecio divaringata L. Di Cina dikenal sebagai Samsit atau tansit (Coan tin sit) (Winarto, 1994).
Klasifikasi daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) :
Divisi          : Spermatophyta
Sub Divisi   : Angiospermae
Kelas          : Dicotyledonae
Sub Kelas   : Sympetalae
Bangsa        : Asterales/Campanulatae
Suku           : Asteraceae/Compositae
Marga         : Gynura
Jenis            : Gynura pseudochina (L) DC
(Tjitrosoepomo, 1988 ; Backer and Van den Brink, 1968).
Kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) adalah saponin, flavonoid, dan minyak atsiri (Kumalaningsih, 2008). Flavonoid dalam daun dewa adalah glikosida quersetin (Soetarno, 2000), yang bersifat antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga pembentukan asam urat terhambat (Sulaksana, 2004).
Beberapa kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) yaitu:
1.    Saponin
Saponin mempunyai berat molekul yang besar dan polaritas tinggi. Saponin berbentuk glikosida yang dapat dihidrolisis menjadi asam yang mengandung aglikon (sapogenin), beberapa gula dan berkaitan dengan asam uroniat. Menurut aglikonnya, saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu steroid (tetrasiklik triterpenoid) dan pentasiklik triterpenoid. Kedua macam senyawa tersebut mempunyai hubungan dengan glikosida pada atom C3 (Trease and Evans, 2002). Saponin sering digunakan sebagai detergen, bersifat hemolitik yang jika masuk ke peredaran darah menyebabkan ketoksikan, bersifat diuretik dan kardiotonik (Trease and Evans, 2002).
2.    Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua tumbuhan hijau. Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga (Markham, 1988). Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol 70%. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau amonia, mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987).
3.    Minyak atsiri
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak atsiri ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, atau minyak asensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menguap di udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya (Gunawan dan Mulyani, 2004). Minyak atsiri pada daun dewa diduga dapat merangsang sirkulasi darah, juga bersifat analgetik dan antiinflamasi (Winarto, 1994).
Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian makroskopik, pengujian mikroskopik, dan pengujian histokimia. Dasar pembuatan simplisia yaitu :
a.    Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringan dilakukan dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan.
b.    Simplisia dibuat dengan proses fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan saksama agar proses tersebut tidak berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
c.    Simplisia dibuat dengan proses khusus
Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan, pengentalan eksudat nabati, pengeringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.
d.   Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air
Pati, talk, dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga, kuman patogen, logam berat, dan lain–lain (Anonim, 1985).
Tahap Pembuatan
a.    Bahan baku
Bahan baku merupakan sampel yang digunakan dalam identifikasi suatu senyawa. Bahan baku/sampel biasanya berupa daun yang dijadikan serbuk, atau dapat berupa ekstrak kental yang selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap senyawa yang dikandungnya.
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran–kotoran atau bahan–bahan asing lainya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan–bahan seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotor lainya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air dari sumur atau air PAM.
d.   Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dengan keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
f. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda–benda asing seperti bagian tanaman yang tidak diinginkandan pengotor–pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.
g. Pengepakan dan penyimpanan
Pada penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mengakibatkan kerusakan simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara pengawetannya. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utama adalah air dan kelembaban. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai, dapat melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan maupun penyimpanannya.
h. Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika Indonesia Edisi terakhir (Anonim, 1985).





III.   CARA KERJA
1.      Pembuatan Serbuk Daun Dewa
-       Ambil daun purwoceng sebanyak 1 ons.
-       Sortasi daun purwoceng yang telah diambil.
-       Cuci daun purwoceng dengan air bersih.
-       Potong kecil-kecil daun purwoceng (proses perajangan).
-       Oven daun purwoceng yang telah dipotong dengan suhu 1200C.
-       Haluskan/hancurkan daun yang telah kering dengan mesin penggiling.
-       Simpan serbuk dalam plastik pengemas.
2.      Uji Saponin
0,5 g serbuk daun dewa ditambahkan (10 ml) ke dalam tabung reaksi, tutup dan kocok kuat-kuat selama 30 detik. Biarkan tabung dalam posisi tegak selama 30 menit, apabila buih tingginya beberapa cm dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin.
3.      Uji Flavonoid
a.   Pembuatan larutan percobaan
-   0,5 g serbuk daun dewa disari dengan 10 ml metanol.
-   Panaskan serbuk yang telah ditambah metanol diatas waterbath selama 10 menit.
-   Saring selagi panas dengan kertas saring.
-   Encerkan filtrat dengan 10 ml air dan pindahkan ke dalam corong pisah.
-   Tambahkan 5 ml petroleum eter.
-   Fase metanol diuapkan sampai kering.
-   Tambahkan dengan 5 ml etil asetat.
-   Ambil bagian yang jernih.
b.   Reaksi Taubeck
-   Ambil 1 ml larutan dalam cawan.
-   Uapkan di atas waterbath hingga kering. Kemudian basahi dengan aseton.
-   Tambahkan eter.
-   Tambah serbuk asam borat dengan asam oksalat.
-   Panaskan di atas waterbath selama 10 menit.
-   Angkat cawan dari waterbath dan dinginkan.
-   Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-   Terjadi fluoresensi (menunjukkan adanya flavonoid).
c.    Reaksi Wilson
-   Ambil 1ml larutan dalam cawan.
-   Uapkan di atas waterbath hingga kering.
-   Kemudian basahi dengan aseton.
-   Tambah serbuk asam borat dengan asam oksalat.
-   Tambahkan serbuk borat dan asam sitrat.
-   Panaskan di atas waterbath selama 10 menit. Tambahkan aseton.
-   Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-   Menunujukkan (+) berwarna kuning tetapi tidak berfluoresensi.
d.   Reaksi yang lain untuk Flavonoid
-   Ambil 1ml larutan dalam cawan.
-   Uapkan di atas waterbath hingga kering.
-   Larutkan dalam 2ml etanol 95%.
-   Masukkan kedalam tabung reaksi (Tabung reaksi A, B, dan C).
-   Larutan pada tabung reaksi A, tambahkan dengan FeCl3 2% dalam air.
-   Larutan pada tabung reaksi B, tambahkan dengan Pb Asetat 25% dalam air.
-   larutan pada tabung reaksi C, tambahkan dengan Amonia NaOH 0,2 N.
4.      Uji Minyak Atsiri
a.    Identifikasi Umum
-   Teteskan 1 tetes minyak atsiri dalam cawan porselin yang berisi air.
-   Teteskan 1 tetes minyak atsiri pada sepotong kertas saring.
-   Kocok 1 ml minyak atsiri dengan 1 ml natrium klorida jenuh dalam gelas 5 ml, dan biarkan memisah.
-   Teteskan 1 tetes minyak atsiri dalam etanol, petroleum eter dan kloroform.
-   Deteksi adanya senyawa fenol dalam minyak atsiri :
Ke dalam 2 ml larutan minyak atsiri (25% dalam etanol 95% yang netral terhadap lakmus) tambahkan setetes larutan ferri klorida.
-   Reduksi volume minyak atsiri yang mengandung fenol dan turunannya :
Ke dalam 2 ml minyak atsiri ditambah larutan natrium hidroksida, kocok pelan-pelan dan amati (garam fenolat larut dalam air sehingga volume berkurang).
b.   Identifikasi komponen khusus dalam minyak atsiri
1.    Uji terhadap eugenol untuk Oleum Caryophylli:
-   Ambil obyek glass dan deck glass, bersihkan obyek glass dan deck glass.
-   Teteskan minyak atsiri sebanyak 1 tetes pada masing-masing obyek glass.
-   Pada salah satu obyek glass ditambahkan larutan natrium hidroksida 3%, jenuhi dengan larutan kalium bromida.
-   Amati kristal natrium eugenolat yang terjadi dibawah mikroskop.
-   Pada salah satu obyek glass yang lain ditambah larutan ferri klorida. Amati warna yang terjadi.
2.    Uji piperis nigri fructus:
Teteskan asam sulfat pekat pada serbuk Piperis Nigri Fructus pada obyek glass yang diletakkan diatas kertas putih. Amati warna yang terjadi.
c.    Uji adanya fellandren
-       Kocok 100 mg serbuk Piperis Nigri Fructus dalam 5 ml petroleum eter, kemudian saring.
-       Filtrat kemudian dicampur dengan 5 ml larutan natrium nitrit (dibuat dari 5 gram natrium nitrit dalam 8 ml air), kemudian tambah 5 ml asam asetat glasial.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1985.Cara Pembuatan Simplisia. 2–22. Jakarta: Depkes RI.
Anonim.2000.Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. 3–5. Jakarta: Depkes RI.
Fitria, Aninda Titis. 2011. Efek Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (L) DC) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur Balb-C Hiperurisemia. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Harborne. J.B.,1987.Metode Fitokimia, terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso, 69-94, 142-158, 234-238. Bandung: ITB Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar