Senin, 21 Mei 2012
Mini WIFI
Portable keluaran dari TP-LINK .
Memiliki 3 mode yaitu 3G Router, WISP Client Router dan Travel Router Mode (AP Mode).
Tinggal colok modem 3G/ EVDO Anda sudah punya HotSpot mungil.
Buat kamu yang ngga hanya punya 1 leptop(lepi)or netbook drmah n punya 1 modem aja kmu bisa coba nie TP-LINK,,,buat kmu yang punya hpe yang dilengkapi wifi juga bisa nebeng lah ikut internetan n ngga perlu byar pastinya cukup 1 modem buat berbagi...
ngga tau caranya pakai???
1.modem kamu kondisikan pada mode EVDO
2.jangan lupa connect ya,trus laptop kamu tinggal disambungkan ke mini wifi TP-LINK pke tambahan kabel LAN
3.buat pengguna lain yang mau make ksih pasword yang kmu pke
4.so,jadi punya hotspot mini dirumah kamu
semoga bermanfaat ya:):):):)
Sabtu, 19 Mei 2012
makalah skrining fitokimia
SKRINING FITOKIMIA
Daun Dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)
I. TUJUAN
Mahasiswa mampu
mengidentifikasi kandungan kimia tanaman daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.)
secara kuantitatif
dan kualitatif.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Simplisia adalah
bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia
dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan
(mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat tumbuhan (Syahid, 2004).
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau
pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat
dijamin selalu konstan karena disadari adanya variabel bibit, tempat tumbuh,
iklim, kondisi umum dan cara panen, serta proses pascapanen dan preparasi
akhir. Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak
berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. Variabel tersebut juga dapat
dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur
analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak
berdampak banyak pada khasiat produksi. Usaha untuk menjaga variabel tersebut
dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia (Anonim, 2000).
Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan
produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk
menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut :
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya
mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran
jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis),
serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi).
2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi
manusia sebagai obat tetapi diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk
kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat).
3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan
kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis untuk mempunyai
spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa
kandungan (Anonim, 2000).
Daun dewa mengandung
cukup banyak serat, berguna sebagai pencegah dan pengobatan suatu penyakit
(Winarto, 2004). Daun dewa merupakan tanaman yang mudah diperoleh, dapat tumbuh
di segala musim, dan mempunyai banyak khasiat. Tanaman daun dewa digolongkan
sebagai herba, daun berhadapan kadang ada yang tersebar, daun tunggal tanpa
daun penumpu. Bunga dalam bongkol kecil, bunga berwarna orange kecoklatan.
Mahkota bunga berdaun lepas berbentuk lidah. Bakal buah tenggelam dengan satu
bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu, kebanyakan dengan dua kepala putik.
Biji tumbuh menyatu dengan kulit buah (Van Steenis, 2003). Tanaman ini berkhasiat
sebagai antiradang, lever, analgetik, pembersih darah, antikoagulan, penghilang
nyeri di persendian akibat rematik, pengobatan luka terpukul, tidak datang
haid, bengkak payudara, kejang pada anak, masuk angin, digigit binatang
berbisa, asam urat, kutil, tumor, kanker, mencegah serangan jantung, stroke dan
jerawat (Dewani dan Sitanggang, 2006).
Unsur – unsur kimia
yang dimiliki tanaman daun Dewa :
Menurut penilitian pada Pusat
Kesehatan (Farmakologis), setiap unsur kimia yang dimiliki dari tiap bagian
tanaman daun dewa ini, memiliki manfaat yaitu:
1. Efek dari daun
dewa adalah daun dan umbinya biasa digunakan sebagai obat antikoagulan, anti
pembengkakan luka akibat pukulan/benturan/memar, melancarkan peredaran darah,
menghentikan pendarahan pada batuk darah, mimisan, muntah darah, mengurangi
pembengkakan atau benjolan pada payudara, mengatasi haid tidak lancar.
2. Minyak Atsiri
yang terkandung dalam daun dewa mampu merangsang peredaran darah menjadi
lancar.
3. Ekstrak Etanol
daun dewa mampu menghambat pertumbuhan tumor paru dan sel kanker pada uji coba
mencit (tikus putih) (Winarto, 2004).
![]() |
Gambar daun
dewa (Gynura
segetum (L.) Merr.)
Nama lain daun
dewa adalah Gynura divaricata DC,
Gynura ovalis DC, Senecio divaringata
L. Di Cina dikenal sebagai Samsit atau
tansit (Coan tin sit) (Winarto, 1994).
Klasifikasi
daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) :
Divisi :
Spermatophyta
Sub Divisi :
Angiospermae
Kelas :
Dicotyledonae
Sub Kelas :
Sympetalae
Bangsa :
Asterales/Campanulatae
Suku :
Asteraceae/Compositae
Marga :
Gynura
Jenis :
Gynura pseudochina (L) DC
(Tjitrosoepomo, 1988 ; Backer and Van den Brink, 1968).
Kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) adalah
saponin, flavonoid, dan minyak atsiri (Kumalaningsih, 2008). Flavonoid dalam
daun dewa adalah glikosida quersetin (Soetarno, 2000), yang bersifat
antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga pembentukan
asam urat terhambat (Sulaksana, 2004).
Beberapa kandungan kimia daun dewa (Gynura segetum (L.) Merr.) yaitu:
1.
Saponin
Saponin
mempunyai berat molekul yang besar dan polaritas tinggi. Saponin berbentuk
glikosida yang dapat dihidrolisis menjadi asam yang mengandung aglikon
(sapogenin), beberapa gula dan berkaitan dengan asam uroniat. Menurut
aglikonnya, saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu steroid (tetrasiklik
triterpenoid) dan pentasiklik triterpenoid. Kedua macam senyawa tersebut
mempunyai hubungan dengan glikosida pada atom C3 (Trease and Evans, 2002).
Saponin sering digunakan sebagai detergen, bersifat hemolitik yang jika masuk ke
peredaran darah menyebabkan ketoksikan, bersifat diuretik dan kardiotonik
(Trease and Evans, 2002).
2.
Flavonoid
Flavonoid
merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar yang terdapat dalam semua
tumbuhan hijau. Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula
terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengandung 15 atom
karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua
cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak
dapat membentuk cincin ketiga (Markham, 1988). Flavonoid terutama berupa
senyawa yang larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol 70%. Flavonoid
berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau
amonia, mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987).
3.
Minyak
atsiri
Minyak atsiri
adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak atsiri ini disebut juga
minyak menguap, minyak eteris, atau minyak asensial karena pada suhu biasa
(suhu kamar) mudah menguap di udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena
minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Minyak atsiri pada daun dewa diduga dapat merangsang sirkulasi darah, juga
bersifat analgetik dan antiinflamasi (Winarto, 1994).
Untuk
mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk simplisia, maka
dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis
kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian makroskopik,
pengujian mikroskopik, dan pengujian histokimia. Dasar pembuatan simplisia
yaitu :
a.
Simplisia dibuat dengan cara
pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringan
dilakukan dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan
dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang.
Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan
perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut,
bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga
diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan.
b.
Simplisia dibuat dengan proses
fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan saksama agar proses
tersebut tidak berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
c.
Simplisia dibuat dengan proses
khusus
Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan,
pengentalan eksudat nabati, pengeringan sari air dan proses khusus lainnya
dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan harus
memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.
d.
Simplisia pada proses pembuatan
memerlukan air
Pati, talk, dan sebagainya pada proses pembuatannya
memerlukan air. Air yang digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga,
kuman patogen, logam berat, dan lain–lain (Anonim, 1985).
Tahap Pembuatan
a.
Bahan baku
Bahan baku merupakan sampel yang digunakan dalam
identifikasi suatu senyawa. Bahan baku/sampel biasanya berupa daun yang
dijadikan serbuk, atau dapat berupa ekstrak kental yang selanjutnya dilakukan
identifikasi terhadap senyawa yang dikandungnya.
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan
kotoran–kotoran atau bahan–bahan asing lainya dari bahan simplisia. Misalnya
pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan–bahan seperti
tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotor
lainya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan
pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan
air bersih, misalnya air dari mata air, air dari sumur atau air PAM.
d.
Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses
perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan
langsung dirajang tetapi dijemur dengan keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan
dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga
diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
e. Pengeringan
Tujuan
pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
f. Sortasi
kering
Sortasi
setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda–benda asing seperti bagian tanaman yang
tidak diinginkandan pengotor–pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada
simplisia kering.
g.
Pengepakan dan penyimpanan
Pada
penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mengakibatkan
kerusakan simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan,
persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara
pengawetannya. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utama adalah air dan
kelembaban. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan
tujuan penggunaan pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai, dapat
melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi
pemanfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan maupun penyimpanannya.
h.
Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan
mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul
atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni
dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam
Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika
Indonesia Edisi terakhir (Anonim, 1985).
III. CARA
KERJA
1. Pembuatan
Serbuk Daun Dewa
-
Ambil
daun purwoceng sebanyak 1 ons.
-
Sortasi
daun purwoceng yang telah diambil.
-
Cuci
daun purwoceng dengan air bersih.
-
Potong
kecil-kecil daun purwoceng (proses perajangan).
-
Oven
daun purwoceng yang telah dipotong dengan suhu 1200C.
-
Haluskan/hancurkan
daun yang telah kering dengan mesin penggiling.
-
Simpan
serbuk dalam plastik pengemas.
2. Uji
Saponin
0,5 g serbuk daun dewa ditambahkan
(10 ml) ke dalam tabung reaksi, tutup dan kocok kuat-kuat selama 30 detik.
Biarkan tabung dalam posisi tegak selama 30 menit, apabila buih tingginya
beberapa cm dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin.
3. Uji
Flavonoid
a.
Pembuatan
larutan percobaan
- 0,5
g serbuk daun dewa
disari dengan 10 ml metanol.
- Panaskan serbuk yang telah ditambah metanol diatas waterbath selama 10 menit.
- Saring
selagi panas dengan kertas saring.
- Encerkan filtrat dengan 10 ml air dan pindahkan ke dalam corong pisah.
- Tambahkan 5 ml
petroleum eter.
- Fase
metanol diuapkan sampai kering.
- Tambahkan dengan 5 ml etil asetat.
- Ambil
bagian yang jernih.
b.
Reaksi
Taubeck
-
Ambil 1 ml
larutan dalam cawan.
-
Uapkan di atas waterbath hingga kering. Kemudian
basahi dengan aseton.
-
Tambahkan eter.
-
Tambah serbuk asam borat dengan asam
oksalat.
-
Panaskan di atas waterbath selama 10 menit.
-
Angkat
cawan dari waterbath dan dinginkan.
-
Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-
Terjadi
fluoresensi (menunjukkan adanya flavonoid).
c.
Reaksi
Wilson
- Ambil
1ml larutan dalam cawan.
- Uapkan
di atas waterbath
hingga kering.
- Kemudian
basahi dengan aseton.
- Tambah
serbuk asam borat dengan asam oksalat.
- Tambahkan serbuk borat dan asam sitrat.
- Panaskan
di atas waterbath selama
10 menit. Tambahkan aseton.
-
Amati dibawah sinar UV 366 nm.
-
Menunujukkan
(+) berwarna kuning tetapi tidak berfluoresensi.
d.
Reaksi
yang lain untuk Flavonoid
- Ambil
1ml larutan dalam cawan.
- Uapkan
di atas waterbath hingga kering.
- Larutkan
dalam 2ml etanol 95%.
- Masukkan kedalam tabung reaksi (Tabung reaksi A, B,
dan C).
- Larutan pada tabung reaksi A, tambahkan dengan FeCl3
2% dalam air.
- Larutan pada tabung reaksi B, tambahkan dengan Pb
Asetat 25% dalam air.
- larutan pada tabung reaksi C, tambahkan dengan Amonia
NaOH 0,2 N.
4. Uji
Minyak Atsiri
a. Identifikasi
Umum
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri dalam cawan porselin yang berisi air.
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri pada sepotong kertas saring.
-
Kocok
1 ml minyak atsiri dengan 1 ml natrium klorida jenuh dalam gelas 5 ml, dan
biarkan memisah.
-
Teteskan
1 tetes minyak atsiri dalam etanol, petroleum eter dan kloroform.
-
Deteksi
adanya senyawa fenol dalam minyak atsiri :
Ke dalam 2 ml larutan minyak
atsiri (25% dalam etanol 95% yang netral terhadap lakmus) tambahkan setetes
larutan ferri klorida.
-
Reduksi
volume minyak atsiri yang mengandung fenol dan turunannya :
Ke dalam 2 ml minyak atsiri
ditambah larutan natrium hidroksida, kocok pelan-pelan dan amati (garam fenolat
larut dalam air sehingga volume berkurang).
b. Identifikasi
komponen khusus dalam minyak atsiri
1.
Uji
terhadap eugenol untuk Oleum Caryophylli:
-
Ambil
obyek glass dan deck glass, bersihkan obyek glass dan deck glass.
-
Teteskan
minyak atsiri sebanyak 1 tetes pada masing-masing obyek glass.
-
Pada
salah satu obyek glass ditambahkan larutan natrium hidroksida 3%, jenuhi dengan
larutan kalium bromida.
-
Amati
kristal natrium eugenolat yang terjadi dibawah mikroskop.
-
Pada
salah satu obyek glass yang lain ditambah larutan ferri klorida. Amati warna
yang terjadi.
2.
Uji
piperis nigri fructus:
Teteskan asam sulfat pekat
pada serbuk Piperis Nigri Fructus pada obyek glass yang diletakkan diatas
kertas putih. Amati warna yang terjadi.
c. Uji
adanya fellandren
-
Kocok
100 mg serbuk Piperis Nigri Fructus dalam 5 ml petroleum eter, kemudian saring.
-
Filtrat
kemudian dicampur dengan 5 ml larutan natrium nitrit (dibuat dari 5 gram
natrium nitrit dalam 8 ml air), kemudian tambah 5 ml asam asetat glasial.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.1985.Cara
Pembuatan Simplisia. 2–22.
Jakarta: Depkes RI.
Anonim.2000.Parameter
Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. 3–5. Jakarta: Depkes RI.
Fitria, Aninda Titis. 2011. Efek Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (L) DC) Terhadap
Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur Balb-C Hiperurisemia.
Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Harborne.
J.B.,1987.Metode Fitokimia, terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso, 69-94,
142-158, 234-238. Bandung: ITB Press.
Penetapan Kadar Obat dalam sampel Biologis
PENETAPAN KADAR OBAT DALAM SAMPEL BIOLOGIS
ABSTRAK
Faramakokinetik obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian
umumnya
mengalami absorbsi, distribusi dan
pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek.
Selanjutnya dengan atau tanpa
biotransformasi obat dieksresi dari
tubuh. Seluruh proses ini yang disebut dengan proses farmakokinetik dan
berjalan secara serentak. Percobaan
menggunakan tikus sebagai
hewan uji yang sebelumnya diberi parasetamol 150 mg/kgbb, dengan selang waktu
1,5-2 jam untuk mencapai kadar puncak. Hewan uji tersebut diambil organ penting
(hati, paru-paru, ginjal) untuk mengukur kadar yang terkandung didalamnya. Metabolisme
obat terjadi terutama dihati yaitu dimembran retikulum endoplasma. Reaksi
metabolisme terdiri dari reaksi fase 1 dan reaksi fase 2. Enzim yang berperan
dalam metabolisme adalah enzim CYP. Pada percobaan ini bertujuan untuk
mengetahui kadar yang
terdapat pada sampel biologis..
Kata
kunci: Biotransformasi, Sampel biologis
RUMUSAN
MASALAH
Pada
organ biologis apa, obat dapat dimetabolisme secara maksimal?
TUJUAN
PENELITIAN
Untuk mengetahui metabolisme
obat yang paling maksimal.
TEORI DASAR
Berdasarkan
jenis atau bentuknya, interaksi obat diklasifikasikan atas:
a. Interaksi
secara
kimia
/ farmasetis
b. Interaksi secara farmakokinetik
c. Interaksi secara fisiologi
d. Interaksi secara farmakodinamik
Farmakokinetik
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian
umumnya
mengalami absorbsi, distribusi dan
pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek.
Selanjutnya dengan atau tanpa
biotransformasi obat dieksresi dari
tubuh. Seluruh proses ini yang disebut dengan proses farmakokinetik dan
berjalan secara serentak.
Pada
pemberian
obat secara oral, obat harus mengalami
proses sebagai berikut antara lain:
a.
Absorbsi
b.
Distribusi
c.
Eliminasi
Model
Non Kompartemen
Untuk
memeperkirakan nilai parameter
farmakokinetik dapat dilakukan dengan yaitu
dengan model non kompartemen. Metode ini dikerjakan atas dasar
perkirakan luas daerah di bawah kurva (AUC) obat dalam
darah terhadap waktu. Model ini tidak perlu adanya asumsi tentang model kompartemen
sehingga dalam semua proses harus mengikuti kinetika orde satu
harus dipenuhi yang berarti farmakokinetiknya harus linier.
Model
non kompartemen digunakan untuk menghitung
parameter absorbsi, distribusi, dan
eliminasi berdasarkan teori momen statistik. Penaksiran AUC tidak hanya digunakan untuk
menghitung bioavailabilitas, tapi
dapat juga digunakan untuk menghitung clearance obat yang sama pada perbandingan dosis intravena, dengan AUC. Semua
parameter farmakokinetik,clearance
kebanyakan digunakan dalam aplikasi klinik dan juga digunakan untuk evaluasi mekanisme
eliminasi.(Gunawan, Sulistia G,
dkk.2009)
Parasetamol yang diberikan
secara oral absorbsinya
berhubungan dengan tingkat pengosongan lambung. Konsentrasi darah puncak biasanya tercapai dalam
30-60 menit. Waktu paruh acetaminofen adalah 2-3 jam dan
relatif tidak terpengaruh
oleh fungsi ginjal (Katzung, 2004).

gambar
1. Struktur parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik serta obat anti-inflamasi
nonsteroid (AINS) merupakan suatu
kelompok yang heterogen. Obat ini termasuk dalam
derifat-asetanilida, ini merupakan metabolit dari fenasetin
yang dulu banyak
digunakan sebagai analgetik. Pada tahun 1978 obat ini telah ditarik dari
peredaran, karena efek sampingnya (karsinogen
dan nefrotoksisitas). Parasetamol mempunyai aktivitas
sebagai analgesik dan antipiretik dengan sedikit efek anti-inflamasi. Parasetamol dianggap sebagai obat yang paling aman untuk swamedikasi.
Walaupun harus diperhatikan bahwa kelebihan
dosis parasetamol dapat mengakibatkan nekrosis hati pada manusia
dan hewan. (Katzung, 2004)
Parasetamol merupakan
salah satu metabolit fenasetin, namun fenasetin
menimbulkan gejala keracunan yang agak
lain, yaitu methemoglobinemia, sedangkan kelainan pada ginjal lebih sering. Hati tidak bisa melakukan detoksifikasi parasetamol, karena
jumlah obat yang besar
itu menjadikan hati jenuh untuk kapasitas metabolisme normal.
Keracunan serius bisa terjadi dengan
kira-kira sedikatnya 12-20 tablet
parasetamol, tergantung dari
kapasitas individual setiap orang. Waktu paruh parasetamol dalam darah (normal 2 jam) juga sangat
memanjang (lebih dari 4 jam),
sehingga dipakai sebagai ukuran untuk menilai
derajat keseriusan keracunan. Sebaiknya parasetamol tidak diberikan pada penderita yang mempunyai gangguan fungsi hati, misalnya hepatitis akut maupun kronik. Semua NSAID mempunyai
efek samping keracunan kronis terjadi pada ginjal tapi sifat ini dimiliki semua NSAID
disebut analgetic nephropathy. Nefropati baru terjadi, pemakaian terus-menerus
selama bertahun-tahun sampai 10-20 tahun. Ginjalnya menjadi sklerotik dan akhirnya harus
dicangkok ginjal. Jadi, parasetamol merupakan
bahan toksis hanya dalam jumlah yang besar. Fenomena ini tidak terlihat bila parasetamol digunakan dalam
dosis terapi yaitu 3 kali 1 tablet (orang dewasa). (Katzung, 2004)
METODOLOGI
Percobaan ini
dilakukan di laboratorium farmakologi Akademi Farmasi Nasional Surakarta.
ALAT DAN BAHAN
Alat
-
Pipet
volume 0,5 ml; 1 ml; 5 ml
-
Labu
takar 50 ml; 100 ml
-
Tabung
reaksi/ flakon
-
Pipet
ukur 5 ml
-
Spektrofotometer
dan kuvet
-
Scalpel/
silet
-
Stopwatch
-
Sentrifuge
-
Mortir
dan stamfer
-
Gunting,
pisau, scalpel
Bahan
-
Larutan
parasetamol 10 mg/ml dalam CMC Na 0,5%
-
Asam
klorida 6N
-
Natrium
nitrit 10%
-
Asam
sulfamat 15%
-
Hati,
paru paru, ginjal
CARA KERJA
- Uji pendahuluan
Hewan uji
diberi parasetamol dengan dosis 150 mg/kgbb. Saat obat di perkiran mencapai
kadar puncak kira – kira ( 1,5 – 2 jam setelah pemberian ).Hewan uji di
korbankan ( dislokasi leher, anastesi eter, benturan fisik ) dan kemudian di
ambil organ – organ pentingnya. Lakukan penetapan kadar obat dalam organ
tersebut ( liver, ginjal, paru – paru ).
- Penetapan kadar dalam sampel biologis
1.
Timbang
organ ( hati, paru-paru, ginjal )
2.
Homogenkan
organ dengan mortar dan stamfer
3.
Ambil
300 mg bagian organ, tambah 10 ml NaOH 1 N, kemudian sentifuge 15 menit
4.
Ambil
larutan bening
- Kuva baku
1.
Sampel
300 mg + ( 10 ml NaOH + parasetamol 10 mg)
2.
Sentrifuge
selama 15 menit
3.
Ambil
larutan bening (buat seri 10, 15, 20, 25, 30 ppm)
4.
Cari
λmax (scaning 200-300nm)
5.
Ukur
serapan
- Blangko
1.
Sampel
300 mg + 10 ml NaOH 1N
2.
Sentrifuge
selama 15 menit
3.
Ambil
larutan bening
4.
Pipet
0,1 ml + NaOH 1N ad 10 ml
5.
Add
kan hingga 10 ml
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan ini bertujuan untuk menetapkan kadar
obat dalam sampel hati, ginjal, paru-paru pada hewan uji tikus. Untuk
mengetahui kadar obat dalam sampel organ dapat dilakukan dengan bioanalisis.
Bioanalisis adalah analisis secara kualitatif maupun kuantitatif suatu bahan
obat maupun sediaan obat dalam sampel biologis. Bioanalisis dapat dibedakan
menjadi 4:
1.
Bioanalisis
kualitatif
2.
Bioanalisis
kuantitatif
3.
Bioanalisis
in-vivo
4.
Bioanalisis
in-vitro
Bioanalisis yang digunakan pada percobaan ini adalah
bioanalisis secara kuantitatif dan in-vivo. Bioanalisis kuantitatif adalah
analisis suatu bahan obat maupun sediaan obat pada sampel biologis yang di
dasarkan pada keberadaan senyawa, dengan cara melakukan penetapan kadarnya.
Bioanalisis in-vivo adalah obat
dimasukan dalam subyek uji untuk melihat efek atau pengaruh tubuh terhadap
obat, dan sampel biologis berupa sampel darah,urin,seliva,biopsi jaringan,organ
atau sampel yang lain.
Pada
percobaan ini obat yang digunakan adalah parasetamol. Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan
antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan suatu
kelompok yang heterogen. Obat ini termasuk dalam derifat-asetanilida, ini
merupakan metabolit dari fenasetin yang banyak digunakan sebagai analgetik.
Parasetamol merupakan salah satu metabolit fenasetin, namun fenasetin
menimbulkan gejala keracunan yang lain, yaitu methemoglobinemia, sedangkan
kelainan pada ginjal lebih sering. Hati tidak bisa melakukan detoksifikasi
parasetamol, karena jumlah obat yang besar itu menjadikan hati jenuh untuk
kapasitas metabolisme normal.
Interaksi secara farmakokinetik terjadi apabila
suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi, biotransformasi /metabolisme,
atau ekskresi obat lain. Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara
pemberian umumnya mengalami absorbsi, distribusi dan pengikatan untuk sampai di
tempat kerja dan menimbulkan efek. Selanjutnya dengan atau tanpa
biotransformasi obat dieksresi dari tubuh. Seluruh proses ini yang disebut
dengan proses farmakokinetik dan berjalan secara serentak.
Metabolisme parasetamol terjadi di hati. Metabolit
utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang
dikeluarkan lewat ginjal. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang
bertanggungjawab terhadap efek toksik (racun) yang diakibatkan oleh metabolit
NAPQI (N-asetil-p-benzo-kuinon imina).
Waktu paruh parasetamol dalam darah (normal 2 jam)
juga sangat memanjang (lebih dari 4 jam), sehingga dipakai sebagai ukuran untuk
menilai derajat keseriusan keracunan. Parasetamol yang diberikan secara oral
absorbsinya berhubungan dengan tingkat pengosongan lambung. Konsentrasi darah
puncak biasanya tercapai dalam30-60 menit. Waktu paruh acetaminofen adalah 2-3
jam dan relatif tidak terpengaruh oleh fungsi ginjal.
Untuk mengetahui kadar obat didalam tubuh dilakukan
dengan mengambil sampel biologis dari subyek uji yaitu tikus. Pengambilan
sampel biologis dari subyek uji yaitu tikus dilakukan dengan pembedahan setelah
1,5 jam pemberian obat, yang bertujuan agar obat telah mengalami fase
farmakokinetik. Pengambilan sampel biologis dari subyek uji tikus dilakukan
dengan cara pembedahan setalah hewan dikorbankan. Sampel biologis yang diambil
adalah hati, paru-paru, ginjal. Masing- masing sampel dihaluskan hingga
didapatkan ekstrak sampel. Ekstrak dari masing-masing organ ditimbang dan ditambah larutan NaOH dan di sentrifuge
selama 10 menit dengan kecepatan tertentu. Perlakuan sentrifuge bertujuan untuk
mendapatkan ekstrak bening dari sampel yang akan dianalisis. Penambahan NaOH
bertujuan untuk melarutkan parasetamol dan untuk meningkatkan intensitas
serapan(absorbansi). Masing-masing sampel diukur absorbansinya menggunakan alat
spektrofotometer pada panjang gelombang 435 nm. Data absorbansi mencerminkan
konsentrasi zat yang dianalisis yang terdapat dalam pembawanya dalam hal ini
adalah paru-paru, ginjal dan hati. Dari
data absorbansi dapat diketahui kadar obat dalam masing-masing sampel biologis.
Dari data absorbansi dapat diketahui bahwa nilai
absorbansi rata-rata obat yaitu parasetamol didalam hati 1,4516 ; didalam
ginjal 1,0937 ;dan didalam paru-paru 1,4701. Secara teoritis kadar terbesar
parasetamol berturut-turut adalah terdapat
pada hati, ginjal dan paru-paru, tetapi dalam hasil praktik didapatkan bahwa
kadar terbesar obat terdapat pada sampel paru-paru,hati dan ginjal. Karena
dapat diketahui bahwa parasetamol memiliki waktu paruh 2-3 jam, selain itu
absorbsi parasetamol yang diberikan secara peroral sangat dipengaruhi oleh
waktu pengosongan lambung. Bila waktu pengosongan lambung cepat maka absorbsi
obat juga akan cepat, tetapi bila waktu pengosongan lambung lama maka absorbsi
obat juga akan lama, karena absorbsi parasetamol terganggu dengan adanya
makanan. Sehingga waktu pengosongan
lambung akan mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi dan
akan berpengaruh pada nilai kadar obat didalam masing-masing sampel. Paru-paru
memiliki kadar parasetamol terbesar dapat dikarenakan, tubuh memiliki kemampuan
untuk segera memetabolisme obat. Metabolit tidak aktif parasetamol yaitu sulfat dan konjugat
glukoronidasi yang dibawa oleh darah terserap oleh paru-paru sehingga didalam
paru-paru juga terdapat parasetamol dalam bentuk metabolit tidak aktifnya.
Berkurangnya kadar obat dalam plasma dan lamanya
efek tergantung pada kecepatan metabolisme dan ekskresi. Faktor ini menentukan
kecepatan eleminasi obat yang dinyatakan dengan plasma half-life eliminasi
(waktu paruh atau t1/2) yaitu rentang waktu dimana kadar obat dalam plasma pada
fase eliminasi menurun sampai separuhnya. Plasma half-life juga tergantung dari kecepatan
biotransformasi/metabolisme dan ekskresi obat. Obat dengan metabolisme cepat
maka half lifenya pendek. Sedangkan obat yang tidak mengalami proses
bitransformasi, obat dengan siklus enterohepatik, obat yang diresorpsi kembali
oleh tubuli ginjal, obat dengan presentase pengikatan pada protein yang tinggi
mempunyai plasma half time panjang.
Nilai absorbansi yang dihasilkan tidak sesuai
berdasar teorinya ini dapat disebabkan luas permukaan dinding usus, kecepatan
pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna dan aliran darah ketempat
absorpsi pada hewan uji, kecepatan aktivitas farmakokinetik obat yang meliputi
absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Juga dapat disebabkan dari
pemerian yang kurang tepat pada jaringan yang dituju.
KESIMPULAN
Dari hasil uji dapt diketahui bahwa kadar parasetamol terbesar terdapat di
sampel paru-paru,ginjal dan hati. Hal ini dapat disebabkan antara lain waktu pengosongan
lambung pada hewan uji, kecepatan aktivitas farmakokinetik obat yang meliputi
absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Juga dapat disebabkan dari
pemerian yang kurang tepat pada jaringan yang dituju.
PUSTAKA
Gunawan, Sulistia G,
dkk.2009. Farmakologi dan Terapi edisi V. FKUI :Jakarta
Katzung. Bertram G, 2004. Farmakologi
Dasar Dan Klinik. SaLemba Medika: Surabaya
Langganan:
Postingan (Atom)